Don't Miss

Potensi Lagundri dan Sorake di Nias

Oleh: Aulia Adam

IMG_0870 - CopyGunungsitoli bisa dibilang semacam pusat kota yang dimiliki Nias. Satu-satunya pelabuhan yang aktif setiap hari ada di sana. Padahal untuk pulau seukuran Nias, satu pelabuhan tak cukup. Penduduknya hampir 300.000 jiwa. Dan jaraknya ke pulau Sumatera sekitar 92 mil. Yang terdekat adalah Sibolga. Hal inilah yang biasanya membuat orang-orang tak melirik Nias sebagai tujuan wisata. Padahal, surgawi bahari ada di sana!

Salah satunya adalah Pantai Lagundri dan Sorake. Sebenarnya, kedua pantai ini terletak di dua kelurahan yang berbeda. Jaraknya sekitar 13 kilometer. Namun, mereka bertetangga. Hanya sekitar 10 menit perjalanan dengan sepeda motor.

Nama kedua pantai ini sebenarnya sudah termasyur sejak 1993 silam. Lagundri dikenal sebagai pantai biru bening yang ditumbuhi pohon-pohon kelapa ramping di pinggir pantainya. Ia menjorok ke dalam, sehingga berbentuk laguna. Pasir putihnya juga jadi daya tarik tersendiri.

Namun, sayang. Pasir-pasir di pantai ini dikeruk oleh warga sekitar untuk kemudian dijual. Sebagian bibir pantai sudah sangat dekat dengan jalan raya yang merupakan jalan utama menuju Pantai ini.

Dari pantai ini, tampak jelas ombak-ombak konstan di Pantai Sorake. Pantai tetangganya. Ombak di Lagundri lebih tenang jika dibandingkan dengan ombak yang ada di Pantai Sorake. Sorake terletak di kanan Lagundri. Beberapa penginapan untuk menginap dan menikmati desiran ombak juga tampak dari bibir Pantai Lagundri.

Jika kita memilih mandi di air yang tenang, maka Lagundri-lah tempatnya. Tapi, kalau nyali tertantang menaiki ombak, maka berselancar di Sorake-lah pilihannya.

Di pantai sebelah tersebut, kehidupan pariwisata lebih hidup. Selain penginapan yang berjejer di pinggiran pantai, ada pula beberapa tempat makan yang meski tak semewah deretan kafe di Jl. dr. Mansur, tapi punya tawaran menu yang bisa mengganjal perut.

Penginapan di Sorake rata-rata pasang tarif Rp 100-250 ribu per malam. Tampilan penginapan-penginapan tersebut serupa. Rumah dua tingkat yang rata-rata punya empat hingga enam kamar. Yang buat beda, beberapa penginapan punya warung kecil di lantai bawah. Tapi kalau soal makanan, semua penginapan menyediakan jasa masak untuk sarapan, makan siang, atau makan malam. Namun, dengan menu ala kadarnya: nasi goreng, mi instan rebus atau goreng dan semacamnya. Beruntung kalau ada nugget goreng.

Bila dibandingkan dengan beberapa tempat pariwisata serupa yang terkenal seperti Pantai Seminyak di Bali, atau Pantai Marina di Batam, pelayanan dan fasilitas yang didapat di Pantai Sorake memang bisa dibilang jauh kurang. Padahal, air pantainya jauh lebih bening ketimbang dua pantai di atas.

Hal ini juga dirasakan Luke Christopher. Ia bule asal Australia yang sudah sepuluh tahun tinggal di Medan. Kerjaannya pulang-pergi Australia-Medan-Nias. Ia menyukai Sorake karena ombak yang ditawarkan pantai ini. Kebetulan, hobinya adalah berselancar. Dan dari hobi itu pula ia tahu tentang pantai satu ini.

“Dulu, waktu saya masih SMA, saya lihat ombak pantai ini di majalah abang saya. Kebetulan abang saya pernah ke sini, dia bilang ombak di sini juga bagus,” cerita Luke. Kisah itulah yang membuatnya bermimpi untuk menyinggahi Sorake suatu hari. Dan mimpinya terwujud.

Ia menyukai ketenangan yang ditawarkan Sorake. Pantainya memang tidak terlalu ramai, apalagi kalau tidak sedang musim badai—sebutan masyarakat sekitar untuk saat di mana ombak akan mencapai 10-15 meter. Luke juga menyukai ombaknya yang selalu konstan. Orang-orang menyebut ombak di Sorake adalah yang terbaik kedua.

Sebabnya? Ombak di Sorake tercipta dengan kala yang jelas. Para peselancar tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan ombak cantik untuk berselancar. Berbeda dengan pantai-pantai lainnya. Gulungan yang dibentuk ombak Pantai Sorake juga sangat indah. Banyak peselancar baik domestik dan manca negara sengaja berlibur kemari.

Namun, Luke memang menyayangkan pengelolaan pantai yang masih jauh dari kata cukup. Fasilitas umum seperti toilet atau bak sampah saja tak kelihatan di sepanjang pantai ini. Orang-orang akan pipis atau bab di toilet penginapan masing-masing kalau sedang sesak.

BelumIMG_0821 - Copy lagi jarak dari Gunungsitoli ke Lagundri dan Sorake. Terlalu jauh dan tak ada angkutan khusus yang melalui jalur itu. Turis harus menyewa mobil di Gunungsitoli jika ingin ke Sorake yang ada di Kecamatan Telukdalam. Biayanya sekitar Rp 150-250 ribu per mobil per malam.

Padahal, jika kedua pantai ini dikelola dengan baik, maka Nias akan jadi tujuan wisata yang tak kalah menggoda ketimbang Seminyak, Kuta, Losari, atau Raja Ampat sekali pun.
Luke menyarankan pemerintah dan masyarakat sekitar untuk menyadari potensi besar kedua pantai ini. “Jangan sampai merusak yang sudah bagus diciptakan Tuhan,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top