Don't Miss

Negeri Suah: Pesona Alam di Desa Paling Ujung

Oleh: Aulia Adam

Perjalanan ke sana memang tak mudah. Akses jalan yang ditempuh akan menguras energi. Tapi, siapa sangka, di desa paling ujung Sibolangit ini menyimpan keindahan alam yang akan menyihir mata?

IMG_7366-01Perjalanan saya dimulai sore hari kala itu. Negeri Suah, sebuah desa terpencil di sudut Sibolangit menjadi tujuan saya berplesir. Belakangan, nama tempat ini lumayan tersohor di kalangan pecinta alam yang gemar mengeksplorasi tempat-tempat wisata baru di Sumatera Utara. Foto-foto di instagram dengan hastag nama desa itu menunjukkan gambar-gambar menarik tentang sebuah sungai berwana biru dan pemandangan cantik di sekitarnya.

Berbekal informasi sederhana, saya memulai perjalanan ke desa tersebut. Rute yang bisa dipilih ada dua. Pertama dari rute Medan- Delitua-Desa Penen- Desa Cinta Rakyat dan sampailah di Negeri Suah. Sementara yang kedua adalah rute Medan-Sibolangit-Bandar Baru. Kabarnya, rute kedua lebih mudah dan ringkas, maka saya memilih rute tersebut.

Ternyata, meskipun rute ini lebih ringkas dibandingkan rute satunya, perjalanan menuju Negeri Suah tetap saja sebuah perjalanan yang punya jalur menantang.

Struktur daerah pegunungan benar-benar terasa. Jalanan berputar-putar, berbelok-belok. Dan tentu saja ada tanjakan setelah semua turunan. Bahkan tanjakan-tanjakan yang akan kita temui bisa mencapai kemiringan 45 derajat.

IMG_7174-01Belum lagi, jalanan berbatu dan becek yang akan kita hadapi ketika sudah mulai dekat ke Desa Negeri Suah. Hari itu, motor saya yang tidak terbiasa melewati jalur demikian terpaksa harus diberhentikan beberapa kali karena mesinnya overheating. Hal ini terjadi karena tanjakan-tanjakan terjal yang harus ditempuh.

Tapi, karena struktur pegunungan yang harus dilewati, tentu saja pemandangan di sepanjang jalan bikin takjub mata kita.

Setelah melewati tiga jam setengah perjalanan, yang sebenarnya bisa ditempuh dengan dua jam saja jika mengendarai mobil atau sepeda motor khas track pegunungan, kami akhirnya tiba di Desa Negeri Suah.

Di desa itu hanya ada 16 rumah sekaligus 16 keluarga. Semuanya suku Karo. Sehingga perbincangan yang terdengar adalah bahasa ibu mereka. Saya tiba di sana sekitar pukul setengah tujuh, gelap sudah mendominasi. Penerangan di kampung itu benar-benar kurang. Setelah memarkirkan motor di Jambur yang memang biasa dijadikan tempat parkir bagi para pendatang, saya menghampiri satu-satunya warung yang ada di desa itu.

Warung itu milik Opta Barus, pemuda berusia 22 tahun. Di warung itu, kami bercerita hampir semalaman suntuk. Darinya, saya tahu potensi besar yang dimiliki desa itu.

IMG_7362-01Menurut Opta, dan ayahnya, Pak Barus, desa ini sudah ada sejak zaman Indonesia dijajah Belanda. Dulu ada 22 keluarga penghuni asli. Kini makin berkurang karena kebanyakan anak muda desa itu lebih memilih merantau keluar desa, ketimbang meneruskan menggarap ladang orang tuanya.

Padahal, penduduk desa ini dikenal sebagai petani jahe, asam sekala, dan kincong terbesar se-Sibolangit. Mereka menyetor berton-ton rempah-rempah itu per bulannya. “Mungkin karena desa ini terlalu pelosok, sehingga orang-orangnya lebih memilih tinggal di luar,” kata Pak Barus dengan logat Karo kental.

Opta sendiri adalah salah satu contoh pemuda yang sudah merantau. Ia bahkan sudah merantau sejak SMP, karena Negeri Suah memang tidak punya bangunan sekolah sama sekali. Merantau sejak kecil untuk bersekolah adalah hal wajar bagi anak-anak di desa ini. Opta bahkan sudah pernah merantau ke Jakarta dan sempat bekerja di sana. Tapi, ia memutuskan kembali ke kampung halaman dan membangun satu-satunya warung di desa itu setelah mendengar bahwa Air Sungai Dua Rasa di kampungnya itu, sudah mulai dilirik wisatawan. Baik domestik Sumatera Utara dan luarnya.

Selama ini, hanya peneliti yang sering berkunjung ke desa itu. Salah satu dari mereka bahkan membantu warga mendirikan turbin sendiri untuk memenuhi kebutuhan listrik desa itu. Ya, benar. Listrik dari negara memang tidak sampai ke Negeri Suah.

IMG_6813-01Belakangan, Sungai Air Dua Rasa memang menjadi daya tarik wisata baru di Sumatera Utara. Sungai ini cukup unik, karena merupakan satu-satunya sungai di Sumatera Utara yang di tiap pinggirannya muncul sumber mata air panas. Aroma sulfur memang terasa sekali ketika kita memasuki kawasan sungai tersebut.

Kombinasi air sungai pegunungan yang dingin dan beberapa sumber air panas di pinggirannya menyebabkan sejumlah titik di batang sungai itu terasa hangat. Sulfur yang menempel di bebatuan membuat sungai secara sekilas mata berwarna putih kehijau-hijauan. Benar-benar cantik dipandang mata.

Belum lagi, beberapa jenis tumbuhan yang biasanya muncul di puncak-puncak gunug berapi tumbuh di pinggiran sungai. Benar-benar keindahan alam yang jarang disaksikan mata.

Sungai ini cukup luas, tapi sama sekali tidak dalam. Kita bisa menyeberanginya asal hati-hati terkena bagian air panas. Namun, arusnya cukup kencang.

Negeri Suah juga punya air terjun yang sangat dekat dengan desa itu. Sehingga suaranya bisa kita dengar setiap saat. Tidak jauh dari sana juga ada Air Terjun Sempuren putih. Air terjun juga ada air panasnya. Warna sungai juga biru agak putih. Yang terlihat, air terjun ini hanya setinggi 3 meter, namun sebenarnya itu hanya tingkatan paling bawah. Jika ditelusuri, air terjun ini bisa mencapai 100 meter.

Diam-diam, Negeri Suah, selain sebagai desa penghasil rempah, juga menyimpan potensi besarnya sebagai tempat pariwisata alamiah yang baik. Selain keasrian alam yang disimpannya, ia juga memiliki budaya masyarakat setempat yang masih sangat tradisional.

Tujuh belas rumah yang ada di desa itu merupakan rumah tradisional khas suku Karo. Semuanya terbuat dari kayu milik sendiri dan merupakan rumah panggung. Menurut Pak Barus, hal ini dikarenakan struktur rumah demikian yang paling sesuai dengan kondisi alam sekitar. “Kalau bangun rumah dari batu di desa ini, waduh pasti enggak bisa tidur itu. Karena malamnya pasti dingin sekali di dalamnya,” kata Pak Barus.

Namun sayang, potensi besar itu harus dihambat dengan jalur transporasi yang sangat parah. Sehingga menghambat perkembangan desa ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top