Don't Miss

Melahap Makanan Pelan-pelan Dapat Hindari Risiko Obesitas

Kita semua pasti pernah melakukan hal seperti ini: menelan sarapan pagi sambil terburu-buru berlari keluar dari pintu, atau segera melahap sandwich sebelum jam istirahat makan siang kita berakhir.

Seperti ditulis oleh australiaplus.com, ketika hidup serba cepat dan makanan tetap diperlukan, makan dengan cepat, atau makan sambil bepergian, tampaknya membuat hari kita menjadi lebih mudah – atau setidaknya lebih menghemat waktu.

Tapi mungkin sudah saatnya kita menghentikan kebiasaan ini dan menikmati setiap gigitan makanan kita bahkan hingga gigitan terakhir.

Awal pekan ini, para periset di Jepang menemukan memperlambat kecepatan dalam menyantap makanan yang kita makan dapat membantu menurunkan berat badan.

Ini bukanlah penelitian pertama yang menyimpulkan menyantap makanan secara perlahan-lahan mungkin memiliki manfaat kesehatan. Tapi bagaimana cara kerjanya?

Biarkan diri anda untuk merasa kenyang

Diduga alasan menyantap makanan secara perlahan-lahan berpotensi mencegah kenaikan berat badan karena alasan berapa lama waktu yang dibutuhkan orang untuk merasa kenyang.

“Dibutuhkan waktu selama 15 sampai 20 menit untuk mekanisme umpan balik alami dapat bekerja … mereka adalah proses fisiologis yang terlibat dalam mengenali perut penuh, rasa kenyang, dan merasa puas dengan makanan,” kata ahli gizi dan profesor Ben Desbrow dari Universitas Griffith.

“Anda lebih mengukur berapa banyak yang Anda makan dengan isyarat dari luar … dalam hal ukuran visual makanan atau konteks sosial, berlawanan dengan perasaan Anda secara internal apakah Anda puas atau tidak.”

Studi menunjukkan orang yang makan perlahan-lahan paling tidak kecil kecenderungannya untuk mengalami obesitas

Makan perlahan kecil kemungkinan obesitas

Studi di Jepang yang dipublikasikan di BMJ Open, melihat data yang dikumpulkan dari pemeriksaan kesehatan rutin dan klaim asuransi dari hampir 60.000 orang Jepang yang menderita dabetes tipe 2 selama lima tahun.

Selama pemeriksaan kesehatan, para peserta ditanyai tentang gaya hidup mereka, termasuk apakah tingkat kecepatan makan mereka cepat, normal, atau lambat, apakah mereka biasanya mengonsumsi makanan ringan setelah makan malam, melewatkan sarapan, atau makan dalam waktu dua jam setelah tidur.

Para periset menemukan mereka yang makan dengan kecepatan normal 29 persen lebih kecil kemungkinannya mengalami obesitas daripada mereka yang makan dengan cepat. Dan mereka yang menyantap makanan secara perlahan-lahan justru lebih baik – mereka 42 persen lebih kecil kemungkinannya mengalami obesitas bila dibandingkan dengan mereka yang makan dengan tingkat kecepatan cepat.

Mereka yang makan dengan perlahan-lahan juga rata-rata memiliki indeks massa tubuh atau BMI yang lebih rendah dan lingkar pinggang yang lebih kecil.

Para periset juga menemukan perubahan dalam kebiasaan makan ini – para pemakan lambat dan tidak ngemil setelah makan malam atau sebelum tidur – sangat terkait dengan obesitas yang lebih rendah, BMI yang berkurang, dan lingkar bobot yang lebih kecil.

“Intervensi ditujukan untuk mengubah kebiasaan makan, seperti inisiatif dan program pendidikan untuk mengurangi kecepatan makan, mungkin bermanfaat dalam mencegah obesitas,” tulis para penulis.

Manfaat makan ‘secara sadar’

Menurut Dr Desbrow, semakin lambat dan “lebih sadar” dengan apa yang Anda makan, maka akan semakin banyak Anda terbiasa dengan tubuh Anda dan umpan balik yang diberikannya kepada Anda.

“Itu akan kembali, sampai pada batas tertentu, memberi waktu untuk mendengarkan apa yang tubuh Anda katakan kepada Anda, berlawanan dengan merasakan tingkat harapan atau kebiasaan tertentu yang terbentuk di sekitar konsumsi makan,” katanya.

Kita dapat menjalani kehidupan yang semakin cepat, namun sistem biologis kita tidak bergerak pada tingkat yang sama dengan perubahan lingkungan kerja dan sosial kita, katanya.

“Makanan tidak pernah lebih mudah diakses, jadi bukan berarti kita harus menggunakan isyarat dari lingkungan … kita harus mendengarkan isyarat internal kita dengan lebih kuat untuk memahami apa yang dibutuhkan tubuh kita untuk bertahan hidup.”

Ahli gizi juga mengatakan bahwa tingkat di mana kita makan mungkin sedikit merupakan ukuran untuk keseluruhan hubungan kita dengan makanan, dan memperlambat juga dapat membantu kita menikmati makanan di hadapan orang lain.

“Saya suka berpikir bahwa makanan jauh melampaui sekedar paket nutrisi yang memasok bahan bakar dan membuat tubuh kita bekerja. Bagi saya, makanan sangat berkaitan dengan keterhubungan satu sama lain,” katanya.

Manfaat mengunyah lebih banyak

Jika Anda cenderung makan di sisi yang lebih cepat, meletakkan peralatan Anda di antara gigitan atau minum segelas air dapat membantu. Tidak ada salahnya mengunyah makanan Anda sedikit lebih banyak lagi.

“Apa pun yang dipecah menjadi partikel yang lebih kecil menciptakan area permukaan yang lebih besar agar enzim pencernaan memiliki efek, berpotensi menyerap dan mengangkut nutrisi yang ada dalam makanan,” kata Dr Desbrow.

“Jadi, Anda mungkin benar-benar mengubah ketersediaan nutrisi berdasarkan seberapa banyak atau seberapa sedikit Anda mengunyah makanan Anda.”

Dia mengatakan jika makanan tetap berada di mulut Anda lebih lama, kemungkinan akan memasuki perut Anda pada tingkat yang lebih lambat.

Tapi apakah ilmuwan berhasil menghitung jumlah mengunyah yang tepat?

“Saya pikir kami tidak punya angka ajaib, tapi pasti lebih dari enam kali. Cukup sering pemakan yang relatif cepat hanya akan mengunyah beberapa kali,” katanya.

Penelitian ini memiliki keterbatasan

Meski penelitian ini berskala besar, penelitian di Jepang ini memiliki keterbatasan: tingkat kecepatan makan para peserta didasarkan pada penilaian subjektif, dan para periset tidak menilai asupan energi atau tingkat aktivitas fisik.

“Temuan dalam penelitian ini adalah asosiasi, bukan sebab-akibat, jadi selalu ada batasan untuk kesimpulan apa yang dapat Anda tarik,” kata Dr Desbrow.

“Tapi ini ide yang menarik, dan saya rasa ada baiknya mengeksplorasinya.”

Meskipun demikian, penelitian sebelumnya telah menunjukkan hubungan yang sama antara kebiasaan makan (termasuk kecepatan) dan BMI dan penambahan berat badan. Makan dengan cepat juga dikaitkan dengan gangguan toleransi glukosa, resistensi insulin, dan sindrom metabolik.

Tidak ada salahnya melambat

Sementara penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah tingkat kecepatan makan seseorang secara langsung berkontribusi pada berat badan mereka secara keseluruhan, Dr Desbrow mengatakan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan memperlambat tingkat kecepatan kita  menyantap makanan itu berbahaya.

“Anda biasanya akan melihat efek kecil dari memperlambat tingkat kecepatan orang menyantap suatu makanan, sampai pada efek yang signifikan secara statistik pada kelompok tertentu,” katanya.

“Apa yang tidak kita lihat adalah bukti bahwa memperlambat tingkat kecepatan menyantap makanan itu merugikan.”

Ahli gizi menambahkan bahwa menjadi lebih memperhatikan makanan yang Anda konsumsi dan cara tubuh Anda meresponsnya akan bermanfaat bagi kesehatan Anda dalam jangka panjang.

“Ini juga akan meningkatkan kesenangan yang terkait dengan konsumsi makanan di hadapan orang lain.”

Penelitian mengungkapkan orang yang melahap makanan secara perlahan-lahan kecil kemungkinan untuk kelebihan berat badan ketimbang orang yang melahap makanan dengan cepat. Getty Images: Sigrid Gombert

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top