Don't Miss

Gua Tersembunyi di Bukit Lawang

Oleh: Fredick Ginting

Kawasan Bukit Lawang di daerah Kabupaten Langkat dikenal sebagai kawasan wisata yang menjadi tujuan berlibur para turis lokal maupun turis asing. Pasca banjir bandang yang melanda sungai Bahorok pada 2003 memang sempat menyebabkan kawasan Bukit Lawang vakum untuk pemulihan kawasan selama kurang lebih lima tahun. Namun, kini kawasan ini telah kembali normal seperti sedia kala.

Bukit Lawang memiliki sejumlah kawasan wisata yang masih alami. Sungai Bahorok yang melewati kawasan ini sering digunakan oleh para wisatawan untuk sekedar mandi, berenang, arung jeram, tubing, dan sebagainya. Selanjutnya disini juga terdapat Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), salah satu daerah yang dijadikan sebagai wilayah cagar alam. Area ini dapat digunakan untuk trekking dan disini terdapat banyak primata jenis orang utan, salah satu daya tarik Bukit Lawang. Ada juga camping ground yang kerap dimanfaatkan wisatawan untuk berkemah. Tak hanya itu, Bukit Lawang juga mempunyai sebuah gua yang cukup tersembunyi. Yaitu gua kelelawar.

Gua ini terletak di salah satu sisi Bukit Lawang. Berjarak sekitar dua kilometer dari Sungai Bahorok. Untuk menuju kesana cukup berjalan kaki. Meski berjarak cukup jauh, medan hutan yang ditempuh tidak begitu sulit. Disepanjang jalan menuju gua tersebut ditanami warga sekitar tanaman sawit dan karet. Juga terdapat sebuah panti asuhan bernama Kindergarten. Panti asuhan ini konon didirikan untuk menampung anak-anak para korban banjir bandang.

Ketika tiba akan ditemukan terlebih dahulu sebuah pondok yang dijaga oleh beberapa orang. Mereka mengklaim sebagai pemilik dan pengelola gua kelelawar ini. Disini setiap pengunjung akan dipungut biaya Rp 5.000 untuk masuk ke gua. Pondok ini juga menyediakan senter untuk disewakan. Pengunjung harus membawa senter untuk masuk, karena di dalam gua jelas gelap gulita.

Selain biaya masuk, pengunjung juga akan dikutip biaya untuk guide. Dari gubuk tadi, jalan yang dilalui selanjutnya cukup terjal. Awalnya menuruni tangga yang cukup licin. Tangga tersebut terbuat dari potongan-potongan kayu dan telah ditumbuhi oleh lumut. Setelah sekitar 100 meter melewati daerah tadi baru  ditemukan mulut gua kelelawar ini.

Gua ini ada beberapa bagian. Gua pertama tidak ada kelelawarnya. Di dua pertama ini masih cukup terang karena masih ditembus oleh sinar matahari melalui celah-celah yang terdapat di bagian atas gua. Beberapa stalagmit dan stalagtit yang berbentuk seperti batu ditemukan di gua ini. Batu-batu stalagmit ini berasal dari tetesan-tetesan air yang jatuh dari akar pohon-pohon yang tertanam di atas. Butuh waktu bertahun-tahun agar tetesan air itu membentuk batu-batu stalagmit.

Setelah melewati mulut gua kelelawar yang pertama, akan dimasuki gua kedua. Di gua yang satu inilah akan ditemukan ratusan hingga ribuan kelelawar bertengger di langit-langit gua. Bau yang khas dan bunyi kelelawar mulai tercium dan terdengar. Kelelawar-kelelawar pertama adalah anak-anaknya. Yang dewasa ada di dalam lagi, hal ini karena kelelawar-kelelawar yang masih muda dan sudah dewasa terpisah.

Gua ini memiliki banyak ruang-ruang dan lorong gelap yang mirip seperti kelelawar. Kalau tidak dipandu sama orang yang paham gua ini, pengunjung bisa kesasar.

Uniknya, belum ada yang tahu kemana ujung dari gua kelelawar ini. Ujung gua tersebut masih panjang, gelap, dan beruang-ruang. Rata-rata ruang-ruang tersebut buntu. Selain kelelawar, di gua ini juga terdapat ratusan burung walet. Burung tersebut juga bertengger di langit-langit gua seperti kelelawar. Tapi bunyi yang dihasilkan burung walet ini lebih berisik dari kelelawar. Di dinding-dinding gua ini juga terdapat banyak kecoak yang berkembang biak dan mendiami gua itu.

Karena belum ditemukannya ujung gua itu, tak ada jalan lain untuk kembali selain jalan yang dilalui untuk masuk. Dalam gua ini juga dapat dijadikan tempat untuk bakar-bakar. Hal ini dibuktikan dengan adanya bekas-bekas arang api di beberapa tanah gua ini.

Gua ini juga disebut gua kampret oleh warga sekitar. Kampret adalah sebutan lain untuk kelelawar.

gua kampret

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top