Don't Miss

Cerita Malim, Agama Asli dari Huta Tinggi (Bagian 2)

Oleh: Aulia Adam

p21-e_0.img_assist_custom-401x267The truth is, ia adalah agama asli di Tanah Air ini. Tapi di antara lima agama yang boleh tertera di KTP, ia sama sekali tidak masuk daftar. Padahal, seperti agama lainnya, damai adalah kunci utama dalam ajarannya. Ialah Malim, agama asli dari Tanah Batak.

Tetap Damai Dalam Diskriminasi

Sekumpulan orang berbondong-bondong memasuki sebuah balai persegi yang di puncak atapnya terdapat tiga hiasan berbentuk ayam jago. Mereka masuk berbaris sesuai jenis kelamin. Pria berbaris masuk dari sebelah kiri, sementara perempuan berbaris masuk dari sebelah kanan.

Para pria memakai pakaian rapi, kemeja, jas, celana keper, ulos, dan tali-tali, semacam sorban berwarna putih yang dililit di kepala. Tapi remaja pria dan anak kecil tidak ada yang pakai tali-tali. Sementara para wanita memakai kebaya, sarung, dan ulos. Tak ada yang pakai alas kaki. Di jalan menanjak, tempat sebuah gerbang kecil terpacak di depan gedung ini, semua orang harus melepaskan alas kaki. Ini bagian dari keyakinan Malim.

Di dalam balai itu, mereka dipimpin sang ihutan, Raja Manarkkok. Ia keluar dari rumahnya dengan dandanan lengkap. Agak lebih berwibawa dan mantap daripada langkahnya kemarin, saat kami datang untuk pertama kali.

Ibadah itu dimulai tepat pukul 11. Persis seperti janji Raja Manarkkok pada kami di hari sebelumnya, “Orang Malim tidak pernah telat.”

Sejam kemudian mereka selesai.

Di dalam ibadah itu, semua perkataan yang terdengar berbahasa Batak. Di pertengahan, ada seorang remaja laki-laki yang berdiri kemudian membacakan patik atau aturan-aturan yang jadi pedoman Parmalim dalam menjalankan kehidupan.

Hari itu adalah hari Sabtu. Dan setiap Sabtu, di balai itu memang diadakan ibadah. Jika orang Kristen akan ke gereja pada hari Minggu, dan pria-pria muslim akan ke masjid tiap Jumat, maka Sabtu adalah hari spesial agama Malim untuk beribadah.

Seluruh penduduk beragama Malim di sekitaran Balige, Laguboti, bahkan Parapat akan datang ke Huta Tinggi untuk menunaikan ibadah ini. Namanya Mararisabtu. Sebab, balai tempat ibadah itu adalah satu-satunya yang ada di kawasan Kabupaten Toba Samosir. Lagipula, Huta Tinggi adalah kota pusat Agama Malim. Semacam Mekkah bagi muslim, atau Yerusallem bagi Kristen.

Selesai beribadah, Monang Naipospos, adik Raja Manarkkok bersedia kami wawancarai. Ia bercerita banyak hal. Mulai dari sejarah hadirnya Agama Malim. Hingga cerita-cerita sentimental yang ia alami sebagai seorang Parmalim.

“Orang-orang yang tidak tahu Malim, pasti berpikiran kalau Parmalim itu pelihara begu, pakai jubah hitam, rumahnya dipenuhi kepala tengkorak,” kata Monang sambil tertawa. “Kami sudah biasa distigma begitu,” tambahnya.

Faktanya, rumah Monang memang biasa-biasa saja. Tak ada hal aneh apa pun macam yang dia bilang di ruang tamunya. Kami malah melihat foto-foto keluarga Monang di ruang tamu bercatkan biru itu. ada banyak buku di sebuah meja di sudut ruangan. Itu adalah meja kerja Monang.

“Dulu pernah ada sekolah tinggi agama dari Tarutung datang kemari dan mikir macam yang saya bilang tadi. Kaget mereka kenapa saya bahkan bisa pakai laptop,” kata Monang sambil tetap tertawa.

Parmalim memang salah satu agama asli Indonesia. Seperti Sunda Wiwitan dan agama pribumi lainnya. Namun, nasib mereka semua sama: terasing karena agama-agama impor di Indonesia yang kemudian jadi mayoritas. Membuat orang-orang macam Monang jadi minoritas yang tak jarang haknya dikangkangi.

Dulu, di zaman sebelum  Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Kependudukan keluar, Parmalim harus merasakan diskriminasi besar-besaran. Seperti terpaksa menuliskan agama lain di kolom KTP mereka sesuai dengan 5 (kemudian 6) agama yang diakui di Indonesia. Anak-anak mereka juga terpaksa harus belajar agama lain selain agamanya sendiri di sekolah, sebab kurikulum Indonesia yang diskriminatif terhadap mereka.

“Tapi sungguh, hal-hal itu bukan masalah bagi kami Parmalim. Justru kami merasa beruntung dapat mempelajari agama lain, sehingga toleransi kami lebih besar,” ungkap Monang.

Monang bilang, Malim mengajarkan mereka untuk meyakini bahwa semua orang sama terhormatnya. Sehingga tak ada manusia yang lebih dari manusia lainnya. “Sama seperti agama lain, Malim sebenarnya juga mengajarkan kedamaian. Untuk berperilaku damai,” tambahnya. (Bersambung)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Scroll To Top