Don't Miss

Cerita Malim, Agama Asli dari Huta Tinggi (Bagian 1)

Oleh: Aulia Adam

PICT0005The truth is, ia adalah agama asli di Tanah Air ini. Tapi di antara lima agama yang boleh tertera di KTP, ia sama sekali tidak masuk daftar. Padahal, seperti agama lainnya, damai adalah kunci utama dalam ajarannya. Ialah Malim, agama asli dari Tanah Batak.

Siang itu panas cukup menusuk. Tapi udara berangin membuatnya tak bikin keringatan. Saya dan dua orang kawan tiba di sebuah perkampungan kecil bernama Huta Tinggi. Letaknya di Laguboti, Sumatera Utara. Sekitar 7 sampai 8 jam perjalanan darat dari Medan. Kampung itu benar-benar kecil, diisi oleh keluarga Malim, sebuah agama yang asli berasal dari Tanah Batak. Hanya ada sekitar enam rumah di sana. Bahkan, satu di antara keenam rumah itu dihuni oleh satu keluarga yang bukan berama Malim. Ia terpisah beberapa meter dari kediaman warga lain yang beda agama.

Suasana di sana sunyi dan tenang. Hanya ada suara anak-anak kecil yang tertawa bermain, dan seorang nenek tua, mungkin berusia 90-an yang sedang duduk di teras rumahnya sambil mengulum sirih.

Saat kami menghampirinya, dan coba bertanya dalam bahasa Indonesia, si nenek tak mengerti. Ia berceloteh menyahuti kami dalam bahasa lain: bahasa Batak. Ternyata kami saling tak mengerti perkataan lawan bicara.

Dari pintu rumah itu, muncul seorang wanita paruh baya. Padanya kami bertanya tentang Raja Manarkkok Naipospos. “Kenapa ingin bertemu Bapak?” tanyanya penuh curiga.

“Kemarin kami sudah telepon Bapak, Bu. Kami mau wawancara tentang Malim,” kata seorang kawan saya.

“Oh, Bapak sedang sakit. Tapi coba saja ke sana dulu,” tambah wanita yang ternyata adalah adik ipar Raja Manarkkok, orang yang kami cari. Ia menunjuk sebuah rumah dengan pelataran luas. Rumah itu tampak lebih modern dari rumah di sekitarnya. Dari rumah tempat nenek tua tadi duduk, kami harus menyebrang melewati jalan menanjak sedikit untuk ke rumah yang ditunjuk.

Di sana kami bertemu perempuan baya lainnya. Ia sedang membaca koran. Rambutnya putih di bagian dekat kuping, tapi masih hitam pekat di bagian ubun-ubun. Tak dinyana, perempuan itu adalah istri Raja Manarkkok.

Awalnya ia juga pasang tampang curiga. Mereka memang sangat defensif. Mungkin, malas menghadapi orang asing yang penasaran macam kami. Mungkin sudah bosan dengan orang-orang yang datang penasaran. Di pertemuan berikutnya, baru saya ketahui jawaban pertanyaan ini: mengapa mereka defensif?

“Kan sudah saya bilang kemarin, saya sedang sakit. Tidak bisa diwawancarai,” seorang pria baya keluar dari rumah itu, tergopoh-gopoh. Langkahnya pendek-pendek.

Kami terkejut, karena pria yang keluar begitu kurus. Rambutnya hampir perak semua. Ia memang terlihat tidak sehat. Sungguh berbeda dengan Raja Manarkkok di foto yang kami ambil dari internet. Tapi, ia memang Raja Manarkkok yang kami cari.

Lantas, siapa sebenarnya Raja Manarkkok ini?

***

Syahdan, kabar kematian Sisingamangaraja tersebar ke seantero Tanah Batak dan sekitarnya. Itu terjadi pada 1907. Saat itu belum ada agama bernama Malim. Masyarakat Batak yang ada masih meyakini iman mereka kepada Debata  Mulajadi Nabolon, nama Tuhan mereka, dan Sisingamaraja sebagai salah satu orang suci. Tapi belum ada yang menamai keyakinan itu.

Kabar kematian ini disebarkan oleh Belanda. Mereka bilang, Sisingamagaraja yang adalah kepala pemberontakan Belanda, sudah ditembak mati di persembunyiannya. Kabar itu sontak membuat ciut nyali raja-raja kecil di Tanah Batak. Mereka juga sudah banyak yang terkena politik pecah belah Belanda. Sehingga loyalitasnya terhadap Sisingamangaraja dan Tanah Batak sendiri sudah tergerus.

Namun ada satu orang yang tetap setia pada imannya dan Sisingamangaraja. Namanya Lanja Naipospos. Lanja bukan orang berada, pun tak punya keturunan. Padahal hal ini sangat penting bagi orang Batak. Sebelum dikabarkan mati, Sisingamangaraja pernah berpesan pada Lanja untuk terus menyebarkan kepercayaan orang Batak pada Debata Mulajadi Nabolon. Sebab di saat yang sama, gerakan misionaris yang dipimpin Nomensen menguat di Tanah Batak. Penginjilan menanggalkan kepercayaan lokal.

Dengan segala kekurangannya, Lanja dilanda keraguan yang teramat sangat. Namun, Sisingamangaraja menguatkannya, “Percayalah samaku,” katanya. Sisingamangaraja bilang kalau Lanja akan jadi orang yang mulia. Sekonyong-konyong Lanja memercayai perkataan Sisingamangaraja. Namun, masih bersisa setitik keraguan di hatinya.

Tapi yang dikatakan Sisingamangaraja memang terjadi. Semenjak menyebarkan ajaran-ajaran keyakinannya, dan memperjuangkan yang ia yakini, banyak orang datang membantu Lanja. Ada pedagang kerbau, pedagang emas, dan banyak lainnya. Semuanya mempermudah Lanja menyebaran agama itu. Seperti membangun sebuah balai untuk jadi tempat beribadah. Lanja juga pada akhirnya memiliki keturunan.

Persis seperti yang dikatakan Sisingamangaraja, Lanja lama-kelamaan dikenal sebagai Raja Mulia, karena hatinya yang tulus senang membantu orang lain.

Suatu ketika, ada sebuah kejadian lain yang mengejutkan Raja Mulia. Ia mandi dengan seorang kawan yang menawarkan bantuan padanya. Tampilan orang itu kumuh dan lusuh. Tapi, ketika mandi, Raja Mulia kaget alang kepalang ketika melihat beberapa “tanda” di tubuh kawan itu. Ia, dalam hati, meyakini bahwa tanda itu adalah tanda-tanda yang sama yang dimiliki Sisingamangaraja. Ia sama sekali tak mengeluarkan terkaannya itu melalui mulut. Ia bungkam.

Tapi si kawan malah tiba-tiba bertanya, “Apa yang kau bilang?” Raja Mulia makin kaget. “Orang yang kau sebut dalam hatimu itu sudah pergi. Aku ini orang yang tak punya kerajaan dan sanak saudara. Aku siak bagi. Aku ini kepedihan,” ia menambahkan.

Lantas, kawan Raja Mulia tadi kemudian dikenal orang-orang Malim sebagai Raja Nasiakbagi, salah satu tokoh spiritual dalam agama Malim.

Kala itu, muncul lagi isu bahwa Raja Nasiakbagi ini adalah Sisingamangaraja. Dan isu itu sampai ke telinga Belanda. Mereka kemudian menggeledah kediaman Raja Mulia, namun berkat kelihaian Raja Mulia, Belanda akhirnya percaya bahwa Sisingaraja memang sudah mati seperti dugaan mereka. Dan tidak mungkin Nasiakbagi adalah Sisingamangaraja.

Untuk menjaga keutuhan ajaran-ajaran suku Batak ini, yang kemudian dinamai Ugamo Malim (agama Malim), Raja Mulia kemudian melembagakannya dan dipusatkan di Huta Tinggi. Tentu hal itu bukan jadi angin segar di telinga Belanda yang sedang gencar mengkristenisasi. Namun setelah mengamati, Belanda melalui Controleur Van Toba memberikan izin. Sebab kegiatan Parmalim, sebutan untuk penganut agama Malim, tidak mengandung hasutan untuk menentang Belanda.

Kisah ini diceritakan Monang Naipospos, Kepala Pengurus Punguan (Organisasi) Malim. Ia kami temui di rumahnya Sabtu, 16 Mei lalu. Rumah Monang adalah tempat nenek-nenek berusia 90-an yang kami temui pertama kali. Ia suami wanita paruh baya yang mengaku sebagai adik ipar Raja Manarkkok.

“Ya, Raja Manarkkok itu abang saya,” katanya pada kami di awal pertemuan.

Sementara, Raja Manarkkok ini adalah ihutan (yang diikuti), semacam tetua pimpinan Parmalim di seluruh Indonesia. Ia adalah cucu Raja Mulia, sekaligus menjadi ihutan penggantinya di masa kini (bersambung).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Scroll To Top