Don't Miss

100 Tahun GKI Sumut Medan

Oleh: Aulia Adam

gki-sumut-medan-zaman-dulu1Ia adalah salah satu gereja tertua di Medan. Bangunannya telah diakui sebagai cagar budaya yang dilindungi. Tahun ini, usianya genap 100 tahun. Lantas, bagaimana perjalanan gereja tanpa denominasi ini? Mari simak penelusuran Xpresi.co.

Siang di bulan November itu terik sekali. Langit Medan sangat cerah saat saya menyambangi salah satu gereja tertua di Medan ini. Ada seorang pemuda, kira-kira seperempat abad yang tengah menyapu halaman paving block gereja ini yang luas. Olehnya, saya diarahkan untuk bertemu dengan Pendeta Nuran Ady Suyatno, S.Th, pendeta utama di sana. Dengan ramah, Pendeta Nuran menyambut saya dan bercerita tentang sejarah GKI.

***

Dahulu Ia bernama Gereja Gereformeerd. Pada mulanya Ia tumbuh dari kelompok yang terdiri atas beberapa orang anggota Gereja Gereformeerd Kwitang Jakarta. Kelompok ini dimulai tanggal 1 Januari 1904 dan terus berkembang hingga meluaskan daerah pelayanannya di wilayah Sumatera Bagian Utara dan Sumatera Barat. Rapat jemaat pertama yang diadakan pada 24 Oktober 1915, akhirnya memutus menugaskan Ds. W.S. de Haas sebagai Pendeta Utusan.

Pendeta de Haas yang datang ke Medan Pada Juni 1916, melakukan kunjungan diaspora ke sejumlah daerah di Sumatera Utara. Kunjungan itu bahkan mencapai sampai pesisir-pesisir Aceh. Semua dilakukan demi pelayanan dan perluasan jemaat. Baru pada 28 Februari 1917, Gereformeerde Vereniging memutuskan untuk membangun gedung karena anggaran yang direncanakan berjumlah f 30.000. Sekitar f 16.700 berasal dari gereja, sementara anggota Gereformeerd Vereniging dari Belanda bernama P.A. Colijn dan J. Hogervorst membawa f 8.100. Totalnya terkumpul f 15.910, sehingga gereja bisa dibangun tanpa perlu hutang. Sementara tanah yang luas disumbangkan oleh Kesultanan Deli. Arsiteknya sendiri berasal dari Belanda, bernama Tj. Kuipers.

Gedung tersebut akhirnya selesai dibangun dan dipakai untuk pertama kalinya Pada 26 Mei 1918. P.A. Colijn menulis: “mereka datang dari Timur dan Barat, dari Utara dan Selatan ke Medan, untuk tinggal sementara di antara orang yang sepemikiran. Bahkan untuk menghadiri acara tersebut ada yang perlu menempuh perjalanan 1 hari untuk datang melewati antara pohon karet dan tanaman tabak, dari padang minyak Aceh, ya bahkan dari Danau Toba untuk merayakan hari besar ini dalam kehidupan gerejawi.”

Dari gambaran tulisan Colijn kita bisa melihat betapa megahnya gereja ini dirayakan pada waktu itu. Ternyata gedung gereja yang cantik membuat jemaat semangat. Lamat-lamat orang-orang juga jadi sangat rajin. Tidal hanya karena itu, tapi para majelis yang aktif juga mebuat suasana gereja semakin ramai.

Gereja ini ternyata juga merupakan Gereja Gereformeerd pertama yang ada di luar pulau Jawa. Oleh karena itu, gereja di Medan mempunyai peran yang sangat penting dalam melayani jemaat diaspora yang tersebar. Seiring berjalannya waktu, jemaat Gereja Gereformeerd kian banyak. Maka dari itu, dalam perkembangannya, pendeta yang diminta melayani gereja ini untuk menetap di sebuah gedung di samping bangunan utama. Bangunan itu disebut pastori, yang juga telah dilabeli cagar budaya oleh pemerintah.

Kini, pastori tersebut ditinggali oleh Pendeta Nuran yang merupakan pendeta ke-13 yang pernah melayani GKI Sumut Medan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Scroll To Top